Kemarin, seorang teman bercerita tentang temannya. Ibu X, sebut saja seperti itu, telah menumbuhkan kekaguman bagi teman saya karena berhasil menjaga keutuhan rumah tangganya dari perselingkuhan.
Ibu X adalah seorang doktor jebolan sebuah universitas ternama di Jawa Timur. Sementara suaminya ‘hanya’ lulusan SMU. Sebagai seorang wanita karir, si Ibu terkadang merasa suaminya bukan partner bercerita yang selevel dengannya. Ia hanya menemukan orang-orang yang bisa mengimbangi pembicaraan di kantor tempat ia bekerja. Bagaikan gayung bersambut, seorang profesor di tempat ia bekerja bernasib sama. Istrinya dianggap tidak selevel dengannya. Hari demi hari berlalu, ibu itu semakin cocok dengan profesor. Benih perselingkuhan hampir saja tumbuh di hati keduanya. Namun, atas ijin Allah swt., si Ibu bisa mempertahankan benteng dirinya dari kesempatan untuk melakukan tindakan tak terpuji itu.
Ibu itu berkata kepada teman saya, “Wanita itu kunci saat ada seorang lelaki yang membujuknya untuk mengkhianati suaminya. Artinya, dialah yang pegang kendali keputusan itu. Apakah ia akan melakukannya atau tidak.”
Masing-masing berperan
Sekilas, benarlah apa yang dikatakan si Ibu X. Namun, secara pribadi saya tidak terlalu sepakat jika hanya wanita yang menjadi penentu bagi keutuhan sebuah rumah tangga. Rumah tangga, bagi saya dibangun oleh dua orang, maka yang menjadi penentu kelangsungan atau kehancuran rumah tangga itu adalah dua orang tersebut.
Jika dalam kasus di atas, benih-benih perselingkuhan tumbuh karena kesenjangan pendidikan antara keduanya, maka dalam hemat saya, solusinya adalah bagaimana kesiapan keduanya untuk saling men-up grade pasangannya dan kemauan keduanya untuk saling belajar.
Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 187, “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian baginya.” Saya menangkap, pakaian di sini bukan hanya sebagai penutup atas aib masing-masing pasangan. Namun juga, adalah sebagai pelindung masing-masing pasangan. Pelindung dari godaan oknum lain di kehidupan rumah tangga mereka. Sebagaimana seorang suami yang berhak mendapatkan ‘pelayanan’ khusus hatta ketika istrinya sedang memasak di dapur. Demi menjaganya dari penyaluran keinginan yang tidak semestinya, maka seorang istri pun berhak untuk mendapatkan ayoman suaminya agar ia pun tak menggantungkan pengharapan kepada bukan suaminya.
Jika pertanyaan yang biasa muncul, kemana lagi seorang suami harus berlabuh jika ingin menambatkan hatinya, dan jawabannya haruslah kepada istrinya. Maka, jika seorang istri ingin menambatkan hatinya, kemana lagi kalau bukan kepada suaminya???
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” At Tahrim 6
19 Juni 2007, Ya Allah … tetapkanlah hati ini dalam jalan cintaMu..
Miem, blognya bagus deh.
Tanggal posting ini kamu masih menten anyar ya?
selamat deh. semoga Allah swt senantiasa memberkahi kalian berdua. Amien
Oleh: kafepeduli on Oktober 24, 2007
at 3:55 am
yup, setuju bu.
Saling introspeksi diri masing-masing.
selalu mensyukuri kelebihan dan kekurangan pasangan kita.
Oleh: hendryfikri on Juli 25, 2009
at 8:00 am